Selasa, 01 Februari 2011

Okapi, Inilah Hasil Kawin Silang Antara Jerapah dan Zebra







sumber: taukahkamu.com



Inilah Perbedaan Rokok Marlboro Mesir Vs Rokok Marlboro Indonesia







sumber: taukahkamu.com



Inilah Negara-Negara yang Memblokir Twitter

. menjelma



Twitter

JAKARTA - Menhan Purnomo Yusgiantoro menyatakan Twitter bagian dari media sosial yang bisa mengancam negara dari sisi nonmiliter. Sejumlah negara sudah merasakan dampak ’serangan’ Twitter dan bereaksi reaktif dengan menutup layanan jejaring sosial di negaranya.

Kebanyakan negara yang memblokir layanan media sosial Facebook dan Twitter, kebanyakan terjadi setelah banyak peristiwa di dalam negeri yang dapat menganggu stabilitas keamanan nasional. Gangguan yang dimaksud bisa terjadi karena isu SARA, kritik terhadap pemerintah, atau sampai membocorkan rahasia negara.

Berdasarkan penelusuran okezone, Jumat (28/1/2011), berikut beberapa negara yang terpaksa memblokir layanan mulai dari Facebook, Twitter, blog hingga YouTube karena dianggap menganggu keamanan dalam negara.

Pakistan

Pemerintah Pakistan menutup mikroblogging, Twitter, sejak 21 Mei 2010. Ketika pengunjung mengakses Twitter, mereka hanya akan mendapati sebuah tulisan yang menyatakan bahwa situs tersebut dibatasi penggunaanya. “this site is restricted.”

Sejak dua hari belakangan ini, otoritas telekomunikasi pakistan telah memblokir dua situs jejaring sosial dan video, Facebook dan Youtube terkait munculnya Fan page ‘Everybody Draw Mohammad Day’ yang menyebarkan seruan untuk menggambar sketsa Nabi Muhammad dan mempostingnya di Facebook pada tanggal 20 Mei.

Bangladesh

Pemerintah Bangladesh mengikuti jejak Pakistan, memblokir akses situs jejaring sosial Facebook. Latar belakang pemblokiran tersebut masih terkait dengan kemunculan fan page ‘everybody draw Mohhamad day” di Facebook. Kemungkinan pemblokiran tersebut hanya untuk sementara.

Aljazair

Pemerintah Aljazair memblokir sebagian layanan Facebook dan Twitter. Bokir ini dipicu keributan di negara itu terkait peningkatan harga bahan makanan.

Aktivis memanfaatkan media sosial seperti Twitter, Facebook dan YouTube untuk mengungkap pelanggaran pemerintah. Karenanya, pemerintah Aljazair memutuskan memblokir sebagian layanan media sosial itu demi menghindari dampak-dampak tak diinginkan.

Mesir

Ini yang paling gres. Pemblokiran ini dilakukan pemerintah Mesir setelah beredar kabar di dunia maya bahwa akan ada demonstrasi besar-besaran untuk menggulingkan Presiden Husni Mubarak. Pemerintah Mesir menduga para pendemo melakukan koordinasi melalui jejaring sosial dan situs mikroblogging tersebut.

Pihak Twitter mengkonfirmasi kebenaran berita ini. Pemerintah Mesir telah memblokir akses warga ke Twitter. Namun sebagian pengguna internet di Mesir memutuskan untuk menggunakan aplikasi pihak ketiga atau proxi server untuk mengirimkan ‘tweet’ ke layanan mikroblogging tersebut.

Ini sesuai dengan apa yang dikemukan oleh pengamat media sosial Nukman Lutfhi, dia mengatakan media sosial seperti Twitter mempunyai keunggulan yang mampu menjadi ’senjata’ yang mengancam pertahanan negara.

“Twitter itu mempunyai tiga keunggulan. Satu, layanan itu menyampaikan informasi secara cepat. Kedua, dapat membentuk opini masyarakat. Dan yang ketiga, ini yang berbahaya, media sosial dapat menimbulkan perlawanan publik. Inilah yang di mata pemerintah berbahaya,” katanya

sumber: http://wisbenbae.blogspot.com

Iblis Menggugat Tuhan : The Madness Of God

Kategori : Religi, Filosofi
Tanggal Terbit : September 2005
Penulis : Daud Ibrahim Shawni
Penerbit : Dastan Books
Jumlah Halaman : 160
Kualitas : pdf
Ukuran : 602 KB



*RESENSI CERITA*

ALKISAH, seorang pendeta bernama Buhairah menarik diri dari gereja dan memutuskan hidup menyepi. Dalam kesendiriannya, dia menenggelamkan diri ke dalam kajian tehadap buku-buku Kristen. Namun upaya itu tak berhasil menghilangkan “kegelisahan” teologisnya.

Suatu saat, di dalam satu buku, Buhairah menemukan sebuah ramalan. Tentang tanda kenabian yang akan dilihatnya pada punggung seorang bocah kecil. Sebagaimanaa tercatat dalam sejarah Islam klasik, pada akhirnya Buhairah menemukan tanda kenabian itu di punggung muhamad SAW, yang kelak diangkat menjadi Rasul Allah.

Berangkat dari momentum pertemuan antara Buhairah dan Muhammad, Al Shawni memulai kisahnya. Tokoh Buhairah yang digambarkan sedang mengalami skeptisisme personal terhadap keesaan Tuhan diajak Rasulullah. Dia dibawa ke sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian, yang hanya diterangi kerlip dan redupnya bintang.

Di kesunyian itu, Buhairah mengalami komunikasi trsnsendental dengan sosok makhluk gaib yang tak lain adalah iblis. Mulai dari titik ini, pengarang menunjukkan “keliaran” imajinasi untuk meruncingkan konflik di dalam “tubuh” novelnya. Dengan teknik dan langgam penggisahan yang unik, Al-Shawni mendeskripsikan egosentrisme iblis.

Ketika pendeta Buhairah mempertanyakan latar belakang kesombongan iblis yang menolak sujud pada Adam, pengarang memanfaatkan moen itu untuk merumukan dalil-dalil filosofis dalam rangka menarasikan penggugatan iblis. Jelas sekali, Al-Shawni hendak menggelindingkan diskursus baru tentang riwayat pembangkangan iblis yang menolak sujud pada Adam.

Menurut Al-Shawni, penolakan iblis, yang kelak menjadi sebab keterkutukannya, bukan karena latar belakang ontologism. Bahwa iblis diciptakan dari api, sementara Adam hanya diciptakan dari tanah, sebagaimana penafsiran konvensional. Namun justru karena eksistensi Adam adalah pencerminan dosa-dosa iblis. Jadi, mana mungkin iblis mau bersujud pada cermin yang memantulkan buruk rupa wajahnya sendiri?

Bagi khalayak pembaca umum, membaca karya sastra adalah “menikmatinya”, bukannya menggali aspek-aspek kebenaran epistemologisnya. Jika pada paragraf-paragraf awal sebuah novel pembaca tak berhasil “meraih” kenikmatan dengan gambang mereka akan menutupnya.

Tetapi, sebagaimana diusung oleh Al-Shawni di dalam buku ini, barangkali membaca sastra tak cukup kalau sekedar menikmati. Pembaca perlu pemahaman yang intens, penafsiran kritis, dan yang lebih penting adalah penyingkapan misteri kebenaran epistemologis karya sastra sampai ceruk paling dalam.

Dalam buku ini, Al- Shawni seperti sedang mendadani karakter bejat iblis dengan jubah kebesaran filsuf yang penuh aura kearifan dan kejeniusan. Ia berhasil menggunakan metode adab al-jadl. Metode ini semacam kode etik berpolemik di kalangan pemikir muslim Abad Pertengahan, seperti muncul pada debat Buhairah dengan iblis.

Rentang panjang durasi konflik yang “meresahkan” itu, jika tak dilihat dengan ketajaman intuisi, bisa jadi akan melahirkan pembelaan atau bahkan pemenangan argumentasi iblis. Di sini, Al-Shawni tak hanya “menghidangkan” preposisi-preposisi logis untuk mendeklarasikan penggugatan iblis. Ia juga memperkuat argumentasi rasional dengan “meraih” metafora-metafora yang memukau dan sesekali mengejutkan.

Ketika Buhairah berupaya menyudutkan identitas iblis dengan stigma determinime kutukan Tuhan, dengan lihai Al-Shawni membela iblis. Caranya dengan menceritakan kisah Nabi Sulaiman yang sedang murka karena dikhianati burung bulbul, sahabatnya. Burung itu diperingatkan agar jangan menemui Sulaiman dulu, sebab emosi raja sedang memuncak.

Dikabarkan, Sulaiman berniat membunuh burung bulbul. Tapi, anehnya, bulbul bukannya takut pada ancaman sang raja. Bulbul justru bercicit kegirangan penuh suka cita. Riwayat Sualaiman dan burung bulbul ini, menurut Shawni, relevan dengan problem kemurkaan Tuhan pada iblis. Artinya, kemurkaan Tuhan pada iblis justru merupakan pertanda kedalaman cinta Tuhan kepadanyaa.

Dengan kata lain, dilaknati atau dimuliakan oleh Tuhan sudah tak berarti apa-apa lagi bagi iblis. Sebab esensinya adalah kadar kedekatan Tuhan dengannya. Sehingga kutukan pun dapat berubah menjadi berkah. Membaca “kenakalan” pikiran novelis ini, terasa Al-Shawni tak sekedar menggugat dogma keterkutukan iblis.menjelma

Novel ini, jika tidak dibaca hati-hati, sangat berpotensi “menggodaa” pikiran pembaca untuk membela bahkan memenangkan gugatan iblis.


Download File
. http://situslakalaka.blogspot.com/2011/01/iblis-menggugat-tuhan-madness-of-god.html

Pengakuan kebenaran Islam Pada Acara Oprah..

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS36P4GWJTop8yXKCWFLtvL5e0gHEB4MK1Bp6uKyLIEk8g3ks5c5g



http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS3xKs8A90HJG9SrwsqwFHBwdc6wdS7IgsJ4oeqkfDFiGZ8Fsoz



Hati saya melambung tinggi penuh dengan suka cita dan kebanggaan sebagai Muslim ketika sebuah grup nasyid melantunkan nada-nada penuh semangat pada acara Musda DPD PKS Kota Bandung yang diselenggarakan di Pusdai, Bandung, Ahad (07/05) lalu. menjelma Sebagian karena memang nasyid itu sangat menggetarkan hati, sebagian lagi karena beberapa jam sebelumnya saya baru saja dibuat terpana dengan salah satu episode talk show paling laris di dunia, yaitu The Oprah Winfrey Show.


Dalam episode yang ditayangkan siang itu, fokus pembicaraan adalah tentang diskriminasi rasialis terhadap umat Islam. Ceritanya, selama 30 hari penuh, seorang lelaki dari AS yang apriori terhadap Islam diajak tinggal bersama sebuah keluarga Muslim dan bahkan disuruh ‘menyamar’ sebagai seorang Muslim, lengkap dengan janggut dan pakaian gamis panjang seperti yang dipakai oleh orang-orang Arab. Salah satu misinya adalah mengenali kehidupan seorang Muslim yang sebenarnya dan merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim yang sering menerima diskriminasi oleh orang lain di AS.


Singkat kata, ia merasakan betul bagaimana pahitnya menjadi seorang Muslim yang dicurigai hanya lantaran janggut dan baju gamis, padahal semua tuduhan itu sama sekali tanpa bukti. Ia telah berkeliling kota dengan penampilan seperti itu, dan respon instan yang diberikan orang-orang terhadapnya sangat menyakitkan. Bahkan sebagian besar warga AS yang diajaknya bicara secara terang-terangan menolak untuk tidak mendiskriminasikan umat Islam karena mereka yakin betul bahwa semua Muslim adalah teroris.


Di sisi lain, 30 hari yang dihabiskannya bersama sebuah keluarga Muslim benar-benar menunjukkan sebaliknya. Ia merasa bahwa keluarga itu sangat harmonis, dan meskipun banyak kebiasaan yang tidak dipahaminya, namun ia mengakui bahwa banyak masalah bisa terpecahkan dengan ajaran Islam. menjelma


Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika lelaki itu duduk dan mengobrol bersama istri sang tuan rumah berdua di sebuah ruangan. Kemudian sang tuan rumah datang dan mengatakan bahwa dalam Islam dijelaskan bahwa ketika dua orang lawan jenis yang bukan muhrim dan bukan suami istri berada dalam satu ruangan, maka akan ada pihak ketiga bersama mereka, yaitu syetan. Hal pertama yang dipikirkan oleh sang lelaki non-Muslim tersebut adalah bahwa prinsip ini benar-benar gila. Tapi di hadapan Oprah dan semua penonton di studio saat itu, akhirnya ia mengakui bahwa prinsip hubungan antar lawan jenis dalam Islam seperti demikian itu sepertinya benar-benar bisa mengakhiri banyak masalah yang terjadi dalam pergaulan di AS yang serba bebas. Pencabulan, perzinaan, penyimpangan seksual, perselingkuhan, sampai penyebaran HIV / AIDS pun bisa dicegah dengan cara ini, lebih efektif daripada cara apa pun.


…dan saya pun terpana dengan mulut terbuka lebar mendengar pengakuannya.


Saya tidak pernah menyangka seorang non-Muslim akan dengan begitu beraninya mengakui kebenaran Islam di hadapan begitu banyak kamera televisi. Dan walaupun saya mengakui keberanian Oprah dalam mengangkat tema-tema yang kontroversial, saya tetap terpana melihat bagaimana ia berani menggiring acara talk show tersebut dengan cara yang amat objektif.


Maka sekarang jelaslah tugas kita semua. Anda bisa melihat sendiri betapa buruknya citra Islam di mata banyak orang. Oprah telah membuka jalan bagi syiar Islam, yaitu dengan membuktikan bahwa keteladanan akan menghancurkan semua asumsi yang salah. Kalau mereka tidak mau percaya pada kata-kata, maka buktikanlah dengan perbuatan! Buktikanlah bahwa umat Islam bukan teroris! Kita harus membuktikan bahwa kita adalah sebenar-benarnya umat terbaik (khairu ummah) yang mampu memberikan solusi bagi seisi bumi. Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru menjadi beban.


Dan kita memang mampu memberikan solusi, asalkan kita terus berpegang pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tidak ada petunjuk yang lebih jernih daripada keduanya. Sesungguhnya kebenaran adalah kebenaran. Tidak peduli ras mana pun, bangsa apa pun, atau bagaimana pun keadaannya, kebenaran akan selalu diterima sebagai kebenaran. Kalau mereka menolak, mungkin karena mereka belum melihat buktinya.


Tugas kita sekarang adalah memberi pembuktian!

sumber: http://wisbenbae.blogspot.com

CEWEK BOKINGAN HOTEL

CEWEK BOKINGAN HOTEL
klik hotelnya untuk boking

Label